Dikuasakan oleh Blogger.

KISAH SA'ID BIN HARITS BERBUKA PUASA BERSAMA BIDADARI

>> Isnin, Ogos 16, 2010


Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’

Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahsiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia memlawan musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. WAllahu a’lam...
post by: Dakwatuna

Catat Ulasan

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sahabat filah yang dikasihi ALLAh..

Lewat laman ini pasti dan pasti terdapat banyak kekurangan dan kesilapan yang tentu saja disebabkan kerana kedhaifan ana sebagai penulis.

Maka, kupinta ditegur sapa dan nasihat ikhlas sentiasa terbuka, demi wujudnya islah antara kita..in shaa ALLAH

Jazaakumullahu khairan wa ahsanal jaza' atas kunjungan hati :)

♥ Salam ukhuwahfillah, barakallahu fikum ♥

♥ Malik Bin Dinar ♥

Sebaik-baik contoh dalam dakwah islamiyyah ialah Rasulullah SAW. Sebarang usaha yang tidak mencontohi usaha dan cara Baginda SAW, kebiasaannya akan menemui kekecewaan dan kegagalan. Pendakwah hendaklah banyak mendampingi sirah Rasulullah SAW dan menjadikan Baginda sebagai Qudwah (ikutan). Dakwah Rasulullah SAW mengajak kepada Aqidah dan Iman dahulu dari yang lain.

Daie (pendakwah) hendaklah memperingati diri sendiri sebelum memperingati orang lain. Memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Jika daie beramal dengan apa yang diperkatakannya nescaya memberi kesan kepada hati pendengar, jika tidak apa yang diperkatakannya hanya mampu sampai ketelinga sahaja. Demikianlah pandangan Malik Bin Dinar.

♥ Ummatan Wahidah ♥

Selagi kita mengaku ALLAH yang satu, selagi itulah pasti ada jalan untuk bersatu. Sesama muslim kita umpama dua telapak tangan, dengan dipertemukan, terhasillah persaudaraan.

Tangan kanan kotor, tangan kiri juga kotor, namun dengan interaksi yag harmoni berasaskan kelembutan dan kejujuran, kita akan saling membersihkan.

Jangan ada benci. Jangan dibauri kelicikan strategi yang penuh prasangka dan tipu daya... kedua tangan akan terus bercakaran. Keduanya akan saling melukakan.

Hidup hanya sementara... sampai bila kita akan bersengketa? Percayalah apabila berada di ambang kematian... kita akan jadi rindu untuk meminta maaf dan memaafkan.

- Ustaz Pahrol Mohamad Joui -

♥ Dr 'Aidh al-Qarni ♥

Syurga itu sgt mahal harganya, jangan terlalai dalam kesenangan atau semakin jauh dari ALLAH kerana kejahilan dan kesombongan.

Bermujahadahlah dengan sungguh sungguh...telanlah kepahitan mujahadah utk menikmati kelazatan ibadah..apatah lagi tawarannya adalah syurga ALLAH. Nafsu kita ini...ya..nafsu inilah yg harus kita didik dengan taqwa, jernihkan dgn ibadah yang ikhlas...sucikan dengan memohon langsung kepada ALLAH.

Memang benar...kalau kita berlonggar sangat dengan nafsu...lemah mujahadah..akhirnya kita menjadi tawanan nafsu. Hubungan dengan ALLAH terasa tawar...solat tapi rasa jauh, quran pun sudah tak tercapai dek tangan..dengan dosa terasa biasa. Justeru...isytiharkan Jihad!..dgn nafsu, dgn bisikan syaitan dari kalangan jin dan manusia...supaya kita kuat untuk menyebarkan kebaikan dan kesejahteraan pada yang lain dengan izin ALLAH.

~ Indahnya Syurga ~

  © Blogger template Snowy Winter by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP